Utang Piutang dalam Al-Quran

A.Hendang, S.Th.I, M.E.I

https://www.facebook.com/elhafidzelnuhah

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (QS. al-Baqarah: 245)

Lafad Utang Piutang Dalam Al-Quran

Dalam Kamus Bahasa Indonesia yang dikeluarkan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Indonesia disebutkan bahwa utang (n) adalah uang yang dipinjam dari orang lain; kewajiban membayar kembali apa yang sudah diterima; sedangkan  piutang (n) uang yang dipinjamkan (yang dapat ditagih dari orang);.

Dalam al-Quran kata yang digunakan untuk menunjukkan hutang pihutang ditunjukkan dengan kata qardh dan Dain.  Kata Qardh terdapat pada QS. al-Baqarah: 245, al-Maidah: 12, al-Hadid: 11&18, al-Taghabun: 17 dan al-Mujammil: 20. Isi dari ayat-ayat tersebut  adalah  siapa yang memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak

Adapun  kata dain, kata tersebut terdapat dalam QS.  al-Baqarah: 282 dan  al-Nisa: 11&12.

Tafsir QS. al-Baqarah: 245

Dalam menafsirkan QS. al-Baqarah: 245, Ibn Katsir (1/664) mengatakan bahwa dalam ayat tersebut Allah swt. memotivasi hamba-hamba-Nya untuk berinfak di jalan-Nya.

Ibn al-’Arabi dalam tafsirnya yang terkenal dibidang hukum yaitu, Ahkam Al-Quran  (1:307) mengatakan orang-orang ketika mendengar ayat QS. Al-Baqarah: 245 terbagi menjadi tiga kelompok

Kelompok pertama, yang menolak/menghina. Mereka mengatakan bahwa Tuhan Muhammad fakir Ia membutuhkan kita. Allah swt. membalas mereka dengan firman-Nya yang termaktub dalam QS. Ali Imran:181

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan Kami kaya”. Kami akan mencatat Perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang membakar”.

Kelompok kedua, mendahulukan kebakhilan, tidak mau berinfak di jalan Allah, tidak mau menolong orang lain.

Kelompok ketiga, ketika mendengar ayat ini langsung cepat bertindak memenuhi perintah-Nya, yang pertama dari mereka adalah Abu ad-Dahda yang langsung menginfakkan tanahnya.

Imam Al-Qurtubi (al-Jami’ li Ahkam al-Qura, 3:240) dalam menafsirkan ayat tersebut beliau mengatakan panggilan qardh (pinjaman) dalam ayat ini adalah untuk pendekatan kepada orang-orang dengan apa yang mereka pahami. Allah swt. maha kaya lagi terpuji. Ia menyamakan pemberian orang mumin di dunia dengan apa yang ia harapkan balasannya di akherat, sebagaimana ia menyamakan memberikan jiwa dan harta untuk mengambil surga dengan jual beli. (lihat QS. at-Taubah: 111)

Tafsir QS. al-Baqarah: 282

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذا تَدايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.

Wahbah az-Zuhaili mengatakan kata فَاكْتُبُوهُ (hendaklah kamu menuliskannya ) adalah adanya dokumentasi dan saksi karena dokumentasi tanpa saksi tidak bisa dijadikan hujjah. Jumhur mengatakan bahwa perintah dokumentasi dan saksi adalah anjuran. Allah mensyariatkan dokumentasi dan saksi untuk menjaga harta.Tidak diriwayatkan dari sahabat, tabiin dan fukaha bahwa mereka tegas/keras dalam dokumentasi dan saksi bahkan hutang pihutang dan jual beli di antara mereka tanpa dokumentasi dan saksi. Ini menunjukkan bahwa perintah itu adalah anjuran (al-Munir, 3:118)

Selain itu diperkuat dengan firman Allah swt. dalam QS. al-Baqarah: 283 yaitu, jika debitur percaya kepada kreditur karena kedekatan atau teman karib maka diperbolehkan tidak memakai saksi dan dokumentasi ataupun rahn dalam utang piutang.

فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ

akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya)

Adapun hikmah adanya syariat dokumentasi dan hutang  selain untuk menjaga harta sebagaimana disebutkan dalam kelanjutan ayat di atas adalah:

  1. lebih adil di sisi Allah
  2. lebih menguatkan persaksian dan
  3. lebih dekat / tidak menimbulkan keraguan dan fitnah serta perpecahan dan perselisihan

Hikmah dan Keutamaan Qardh

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (QS. al-Baqarah: 245)

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

dari Salim dari Bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara. Ia tidak boleh berbuat zhalim dan aniaya kepada saudaranya yang muslim. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa membebaskan seorang muslim dari suatu kesulitan, maka Allah akan membebaskannya dari kesulitan pada hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

Hukum Qardh (Utang Piutang)

Menurut Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah memberikan utang itu dianjurkan bagi debitur sedangkan bagi kreditur diperbolehkan. Namun jika dalam utang piutang tersebut ada unsur pemanfaatan maka itu haram dan termasuk riba. Seperti misalnya seseorang debitur meminjankan uang dengan syarat bahwa ia boleh untuk menghuni rumahnya kreditur  atau berhutang 1000 riyal dibayar 1200 riyal. (Mausu’ah al-Fiqh al-Islami, 3:495) atau jika A memiliki hutang pada B sebesar 5 juta. Lalu A memiliki motor seharga 7 juta kemudian B berkata pada A saya beli motor kamu seharga 5 juta, jadi hutang mu lunas. Maka ini termasuk pemanfaatan hutang dan termasuk riba. Begitu juga pinjam meminjam dengan memakai bunga itu juga termasuk riba.

Dalam Islam utang pihutang adalah akad tabarru’/non profit bukan untuk mencari keuntungan maupun investasi oleh karena itu tidak boleh padanya ada unsur pemanfatan. Jika ada pemanfaatan maka itu termasuk riba.

Dalam kaidah fikih dikatakan

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

Setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat adalah riba

Hukum orang yang meminjam namun tidak mau membayar

Haram bagi seseorang mengambil harta orang lain (berhutang) namun ia tidak memiliki niyat, motivasi dan usaha untuk mengembalikannya. Orang yang berbuat demikian akan Allah berikan kerugian (Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah, 3: 496).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang mengambil harta manusia (berhutang) disertai maksud akan membayarnya maka Allah akan membayarkannya untuknya, sebaliknya siapa yang mengambilnya dengan maksud merusaknya (merugikannya) maka Allah akan merusak orang itu”.(HR. Bukhari)

Orang Mampu Membayar Hutang Menunda-Nunda Pembayaran Hutang

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menunda membayar hutang bagi orang kaya/mampu untuk membayar adalah kezhaliman

Keutamaan berbuat baik ketika membayar hutang

Berbuat baik ketika membayar hutang adalah dianjurkan dan termasuk akhlak yang mulia.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ مِنْ الْإِبِلِ فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ فَقَالَ أَعْطُوهُ فَطَلَبُوا سِنَّهُ فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلَّا سِنًّا فَوْقَهَا فَقَالَ أَعْطُوهُ فَقَالَ أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَا

dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Ada seorang laki-laki yang dijanjikan diberi seekor anak unta oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka dia datang kepada Beliau untuk menagihnya. Maka Beliau bersabda: “Berikanlah”. Maka para sahabat mencarikan anak unta namun tidak mendapatkannya kecuali satu ekor anak unta yang umurnya lebih diatas yang semestinya. Maka Beliau bersabda: “Berikanlah kepadanya”. Orang tersebut berkata: “Engkau telah menepati janji kepadaku semoga Allah membalasnya buat Tuan”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang terbaik diantara kalian adalah siapa yang paling baik menunaikan janji”(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun jika hal tersebut disebutkan dan disyaratkan pada waktu akad maka itu termasuk riba. seperti seseorang memberikan pinjaman kepada orang lain lalu ia mensyarakatkan harus memberikannya dengan jumlah yang lebih banyak atau lebih besar maka ini termasuk riba dan haram. (Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah, 3: 499).

Keutamaan memberikan  kemudahan dan tangguhan waktu bagi yang kesusahan serta meghapuskannya

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah: 280)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ لَعَلَّ اللَّهَ يَتَجَاوَزُ عَنَّا فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ

dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang suka menghutangi orang-orang, lalu dia berkata kepada pelayannya, ‘Jika seorang yang kesusahan datang kepadamu, maka berilah kemudahan kepadanya, semoga Allah memberi kemudahan kepada kita.’ Kemudian dia bertemu dengan Allah (meninggal), maka Allah pun memberi kemudahan kepadanya.”(HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memberi tempo kepada orang yang kesulitan membayar hutang atau menggugurkan (membebaskan) nya, niscaya Allah akan memberi naungan kepadanya pada hari di bawah naungan ‘ArsyNya, pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya.”(HR. Al-Tirmidzi)

Al-Muhayimmi mengatakan jika debitur mengambil haknya dengan kesusahan, kesempitan dan kesulitan kepada kreditur maka Allah swt. juga akan mengambil hak-haknya kepadanya dengan kesusahan, kesempitan dan kesulitan namun apabila ia memaafkan, membebaskan, lemah lembut, dengan kemurahan hati maka Allah swt. juga akan memaafkan, membebaskan, lemah lembut, bermurah hati kepadanya. Yang berhutang jika tidak menunaikan hak debitur padahal ia sanggup membayarnya maka Allah akan mengambil darinya haknya adapun orang yang tidak sanggup membayar hutang maka mudah-mudahan Allah mengampuninya dan merelakan diskonnya dengan ganti darinya. (Mahasin al-tawil, 2:232)

Hukum orang yang meninggal namun memiliki hutang

Menurut Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah (3:501) wajib bagi seorang muslim menunaikan/membayar hutangnya ketika sudah jatuh tempo. Orang yang menunda-nunda hak orang lain kemudian mati maka diambil/dibayar dari kebaikannya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab; ‘Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.’(HR. Muslim)

Doa agar terbebas dari hutang

عنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الْعَدُوِّ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

Dari Abdullah bin ‘Amru bin Al Ash berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dengan kalimat-kalimat tersebut: “ALLAHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MIN GHALABATID DAIN WA GHALABATIL ‘ADUI WA SYAAMATIL A’DA (Aku berlindung kepada Allah dari lilitan hutang, penindasan musuh dan kebahagiaan musuh).” (Hr. Nasai)

Perbedaan Qardh Dan Dain

Menurut Abu  Hilal Al-Askari qardh itu banyak digunakan dalam ‘ain (properti/uang kontan) dan perak. Yaitu dimana sesorang mengambil dari harta orang lain berupa dirham kemudian ia mengembalikan pinjamannya itu kembali berupa dirham. Maka setiap qardh adalah dain namun tidak setiap dain adalah qardh. Oleh karena itu barang-barang yang dibeli secara kredit adalah dain bukan qardh. Qardh itu pengembaliannya harus sesuai dengan jenis yang dipinjam sedangkan dain tidak seperti itu (Nazih Hammad 2008: 360)

Istilah-istilah hutang dalam kitab fikih

  قراض(Qiradh) menurut bahasa dan aplikasi fikih yaitu, mudharabah seseorang menyerahkan kepada yang lainnya uang untuk (modal) berdagang, dimana keuntungan untuk  keduanya berdasarkan kesepakatan keduanya  (Dr. Nazih Hammad, 2008:359). Menurut al-Azhari asal kata qiradh adalah derivasi dari qardh yang berarti potongan. Dinamakan demikian karena pemilik modal memotong dari pekerja bagian dari hartanya dan ia memotong untuk pemilik harta dari labanya

قرض  (Qardh) adalah menyerahkan harta kepada seseorang yang ingin memanfaatkananya supaya ia menyerahkannya gantinya (Nazih Hammad, 2008:360)

Al-Qardh al-Hasan istilah ini datang dalam al-Quran surat al-Baqarah 245. Menurut Ilkiya al-Harasi adalah memotivasi kepada amal kebaikan dan berinfak pada jalan kebaikan. (Nazih Hammad, 2008:360) sedangkan dalam al-Mujam al-Wasith (2/727) yang dimaksud al-qardh al-hasan adalah:

قرض بِدُونِ ربح أَو فَائِدَة تجارية

Hutang tanpa keuntungan atau bunga

سلف (salaf) secara umum salaf menurut bahasa dan aplikasinya dalam fikih adalah pada akad salam. Salam itu adalah bahasa penduduk hijaz sedangkan salaf adalah bahsasa penduduk iraq. Secara umum menurut fuqaha berarti al-Qardh (hutang). Dikatakan  تَسَلَّفَ وَاسْتَسْلَفَ yaitu meminjam untuk dikembalikan dengan yang serupa (Nazih Hammad, 2008:248) salaf itu lebih umum dari qardh (al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 33: 112)

دين   Dain menurut bahasa adalah داينت فلانا yaitu saya bermuamalah (menjual, menyewa, dll) dengannya secara tidak tunai. Kalimat dain digunakan oleh fukaha dengan dua makna, salah satu maknanya lebih umum dari yang lainnya.

Adapun maknanya secara umum adalah hak yang tetap pada kewajiban. Mencakup kewajiban dalam harta maupun hak-hak yang mahdhah seperti dalam shalat, shaum, haji, nadzar

Adapun dengan makna yang husus adalah yaitu, dalam masalah harta maka menurut fukaha ada dua pendapat:

Menurut Hanafiyyah adalah ibarat dari” apa yang tetap dari kewajiban pada harta dari pertukaran, keruksakan maupun hutang”. Oleh karena itu keluar dari selain yang tiga ini seperti zakat, diyat  dan yang lainnya.

Sedangkan menurut Syafiiyyah, Malikiyyah dan Hanabilah yaitu, setiap yang tetap dalam kewajiban dari harta dengan sebab  diperlukan ketetapannya. (Nazih Hammad, 2008:208)

Advertisement

Portal Pebisnis Muslim Portal Pebisnis Muslim

No comments yet.

Leave a Comment