Hukum aqiqah menurut para ulama klasik dan kontemporer

Atep Hendang Waluya

Atep Hendang Waluya, S.Th.I, M.E.I, lahir 5 Maret 1983. Menyukai kajian kitab tafsir dan turats. Sempat mengajar dibeberapa tempat. Profil lengkap, bisa dilihat di http://koneksi-indonesia.org/profil/atep-hendang/

You may also like...

2 Responses

  1. ahmad yakub says:

    Penjelasanya bagus. Sy sbagai orang biasa terkadang kebingungan dg ada berbagai pendpt hukum aqiqah. Apakah tidak bisa dg satu hukum saja. Itupun tidk bisa. Tp dlm keseharian: orang yg mendengar ada. Yg bkata wajib ada yg berkata sunnah, sunnah muakad.. efek dari pndpt tersebut maka ada yg akikah dan adayang tidak aqiqah. Klolah orang menangkap makna batiniyah.maka sbagai orang awami akn berakikah.sebagai ucapan sykut ata rahmat. Bukakah. Siapapun bisa bersyukur dg ucapan perbuataan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *